SHOLAT PADA WAKTUNYA ...atau... SHOLAT BERJAMAAH DI MASJID YG BELUM MASUK WAKTUNYA..??

SHOLAT PADA WAKTUNYA ...atau... SHOLAT BERJAMAAH DI MASJID YG BELUM MASUK WAKTUNYA..??
_________


TANYA: 
manakah yang lebih dipentingkan : sholat pada waktunya ataukah sholat berjama’ah diasjid yang belum masuk waktunya..?


JAWAB:
Jawabannya dengan memohon pertolongan pada Alloh semata:

Sesungguhnya Alloh ta’ala elah menetapkan waktu-waktu untuk sholat. Alloh berfirman:
{إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا} [النساء: 103]
“Sesungguhnya sholat itu wajib atas kaum Mukminin sebagai ketetapan yang waktunya itu telah ditentukan.”

Dan waktu sholat itu telah ditentukan batas awalnya dan batas akhirnya. Maka barangsiapa melanggar itu maka dia telah berdosa dan bahkan tidak sah sholatnya.
Alloh ta’ala berfirman:
{وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ} [البقرة: 229]
“Dan barangsiapa melampaui batasan-batasan Alloh, maka mereka itulah orang-orang yang zholim.”

Al Imam Asy Syafi’iy rohimahulloh berkata: “Orang yang sholat wajib sebelum waktunya, dan orang yang puasa Romadhon sebelum adanya hilal, satupun dari ibadahnya tadi tidak sah, kecuali di waktunya, karena amalan tadi adalah amalan badan. Dan amalan yang wajib untuk dikerjakan badan, dia itu tidak sah kecuali di waktunya.” (“Al Umm”/2/hal. 121).

Al Imam Ibnu Qudamah rohimahulloh berkata: “Dan kami telah menyebutkan waktu-waktu sholat-sholat wajib. Dan sholat sebelum waktunya itu tidak sah, tanpa ada perselisihan di kalangan ulama.” (“Al Kafi Fi Fiqh Ibni Hanbal”/1/hal. 238).

Ibnu Hazm rohimahulloh berkata: “Maka sesungguhnya Alloh ta’ala telah menjadikan untuk setiap sholat wajib itu waktu yang telah dibatasi kedua ujungnya, masuk di waktu yang telah dibatasi, dan batal di waktu yang telah dibatasi. Maka tidak ada perbedaan antara orang yang mengerjakan sholat tadi sebelum waktunya dengan orang yang mengerjakan sholatnya setelah usai waktunya, karena kedua-dua sholat di bukan waktunya. Dan bukanlah yang ini sebagai qiyas terhadap yang lainnya, akan tetapi kedua-duanya itu sama-sama melampaui batasan-batasan Alloh. 
Dan Alloh ta’ala berfirman:
{وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقد ظلم نفسه} [البقرة: 229]
“Dan barangsiapa melampaui batasan-batasan Alloh, maka sungguh dia itu telah menzholimi dirinya sendiri.”
(selesai dari “Al Muhalla”/1/hal. 189).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata: “Dan maksudku adalah: bahwasanya Alloh itu tidak membolehkan bagi satu orangpun untuk mengakhirkan sholat dari waktunya sama sekali, sebagaimana Dia tidak membolehkan baginya untuk mengerjakannya sebelum datang waktunya sama sekali.” (“Majmu’ul Fatawa”/24/hal. 57).

Dan masih banyak fatwa para imam dalam masalah ini, dan –dengan pertolongan dan taqdir Alloh semata- sudah terkumpul setahun yang lalu, dalam risalah khusus sebagai jawaban atas permintaan dari seorang khothib ‘Aden.

Maka jika kita memang tahu pasti bahwasanya sholat yang dilakukan suatu jama’ah itu belum masuk waktunya, maka sholat tadi tidak sah, dan kita tidak boleh menjadi makmum dari imam yang memulai sholatnya itu sebelum masuk waktunya.

Sholat jama’ah adalah wajib, tapi barangsiapa tidak mendapati satupun dari muslimin di wilayah itu sholat pada waktunya, maka kesalahan ditanggung oleh orang yang menyepelekan ilmu syari’at dan tidak teliti dalam menjalankan kewajiban dari Alloh ta’ala.
والله تعالى أعلم بالصواب
والحمد لله رب العالمين.


✍🏼 dijawab oleh ustadz Abu Fayruz 'Abdurrohman kudus hafidzohulloh di ghurbatussunnah.

HUKUM ORANG YANG BERPUASA TETAPI TIDAK SHOLAT

HUKUM ORANG YANG BERPUASA TETAPI TIDAK SHOLAT

Kaum Muslimin rohimakumulloh, 

Permasalahan tersebut di atas banyak terjadi di tengah masyarakat kita, yakni banyaknya orang-orang yang berpuasa tetapi tidak sholat fardhu (wajib). Bagaimanakah hukum puasa mereka ? Untuk mengetahuinya, berikut ini kami sampaikan kumpulan fatwa Syaikh kami (guru kami) Syaikh ‘Allamah Yahya bin Ali Al-Hajuri hafidzhohulloh, dari kitab beliau Ithaaful Kirom bi Ajwibati Ahkaami Az-Zakaati wa Al-Hajji wa As-Sholaati, yang diterbitkan oleh penerbit Daaru Al-Imam Ahmad, Mesir, tahun 1427 H.

Hanya saja yang kita tampilkan saat ini adalah permasalahan sebagaimana judul di atas, insya Alloh akan kita sambung dengan permasalahan-permasalahan lain seputar Puasa Romadhon. Silahkan membacanya dengan seksama, barokallohu fiikum………  

Pertanyaan (1) : “Apabila orang yang berpuasa meninggalkan sholat fardhu (sholat wajib) dari sholat-sholat yang lima waktu, apakah batal (tidak sah) puasanya orang tersebut, dan apa kewajiban yang harus dilakukannya ?”

Jawab :

Apabiladia sengaja melakukan hal itu (yakni meninggalkan sholat-sholat yang lima waktu, pentj.), sungguh Nabi shollallohu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa sallam telah bersabda :
(من ترك العصر فقد حبط عمله)“Barangsiapa meninggalkan sholat Ashar, sungguh telah terhapus amalannya.” Nabi shollallohu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa sallam juga telah bersabda :(من فاتته صلاة العصر فكأنما وتر أهله ماله)“Barangsiapa kehilangan(meninggalkan dengan sengaja) sholat Ashar, seolah-olah dia meninggalkan/menyia-nyiakan keluarga dan harta bendanya.”

Perbedaan antara dua lafadz dalam hadits tersebut di atas sangat jelas, sabda beliau (“barangsiapa meninggalkan”), dengan (“barangsiapa meninggalkan dengan sengaja”). Siapa yang meninggalkan dengan sengaja salah satu sholat dari sholat-sholat lima waktu, bukan karena ketiduran atau karena lupa, maka orang tersebut harus bertobat kepada Alloh azza wa jalla dari apa yang dilakukannya dikarenakan ia meninggalkan sholat-sholat tersebut, yang mana meninggalkan sholat-sholat tersebut bisa menghapuskan Islam (yakni menyebabkan murtad/keluar dari Islam, pentj.), dan menghapuskan amalan puasa dan juga hajinya. 

Akan tetapi, apakah dia (wajib) berhaji (lagi) apabila dia telah bertobat ? Yang shohih (yang benar), jika dia mati dalam keadaan muslim, maka haji yang pertama (yang telah dilakukannya) telah mencukupi. Jika dia murtad, amalan hajinya tersebut tidaklah terhapus kecuali orang tersebut mati di atas keadaannya itu (dalam keadaan murtadnya).

Alloh ta’ala berfirman :
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ وَلا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (٢١٧)

 “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah, dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu Dia mati dalam kekafiran, maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Baqoroh : 217)

Adapun apabila dia mati di atas Islam, maka menurut pendapat yang shohih tidaklah terhapus amalan-amalannya yang dia lakukan sebelum dia murtad.” Wallohu a’lam bis showab.

(Ithaaful Kirom bi Ajwibati Ahkaami Az-Zakaati wa Al-Hajji wa As-Sholaati, hal. 346, soal no. 10)

Pertanyaan (2) : “Sebagian manusia, tidaklah mereka itu sholat kecuali di bulan Romadhon. Apakah puasa mereka sah ?”

Jawab :

Maknanya, bahwa dia itu sepanjang tahun tidak sholat, kemudian apabila datang bulan Romadhon dia pun sholat, untuk menunjukkan bahwa dia hadir bersama orang-orang yang sholat, dan agar dikenal/diketahui (sebagai orang-orang yang sholat).

Tindakannya seperti  ini tidaklah bisa dianggap sebagai orang yang sholat, tidak pula orang yang berpuasa dan tidak juga sebagai seorang muslim, karena Nabi shollallohu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa sallam telah bersabda : (من ترك العصر فقد حبط عمله ) “Barangsiapa meninggalkan sholat Ashar, sungguh telah terhapus amalannya.”

Apabila dia meninggalkan sholat Ashar saja hingga keluar dari waktunya, maka akan terhapus seluruh amalannya, lalu bagaimana halnya bila dia meninggalkan sholat beberapa bulan lamanya, lalu ketika datang bulan Romadhon dia sholat bersama manusia agar dianggap sebagai seorang yang dikenal (sebagai seorang muslim/orang yang melakukan sholat) dan dianggap orang yang bersegera/bergegas (menegakkan ibadah) ? 

Ini adalah puasa yang tidak sah, kecuali apabila dia telah bertobat, lalu sholat dan berpuasa, maka puasanya tersebut sah.“ Wallohu a’lamu bis showab.

(Ithaaful Kirom bi Ajwibati Ahkaami Az-Zakaati wa Al-Hajji wa As-Sholaati, hal. 393, soal no. 76)


(Diterjemahkan dan disusun kembali oleh Abu Abdirrohman Yoyok WN Surabaya)

SAYYIDUL ISTIGHFAR

SAYYIDUL ISTIGHFAR

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَيِّدُ الْاِسْتِغْفارِ أَنْ يَقُوْلَ الْعَبْدُ: اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ ، لَا إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ عَلَيَّ ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوْقِنًا بِهَا ، فَمَـاتَ مِنْ يوْمِهِ قَبْل أَنْ يُمْسِيَ ، فَهُو مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوْقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ .

Dari Syaddad bin Aus rodhiyallohu 'anhu dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, "Sesungguhnya Istighfar yang paling baik adalah seseorang hamba mengucapkan :

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ ، لَا إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ عَلَيَّ ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْت

ALLOHUMMA ANTA ROBBII LÂ ILÂHA ILLÂ ANTA KHOLAQTANII WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHO’TU A’ÛDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHONA’TU ABÛ`U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABÛ`U BIDZANBII FAGHFIRLÎ FA INNAHU LÂ YAGHFIRU ADZ DZUNÛBA ILLÂ ANTA

(Ya Alloh, Engkau adalah Robbku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau).

(Beliau bersabda) “Barangsiapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga. 
Barangsiapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk penghuni surga."

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh:
1.    Imam al-Bukhori rohimahulloh dalam shohîhnya (no. 6306, 6323) dan al-Adabul Mufrod (no.
       617, 620)
2.    Imam an-Nasâ-i rohimahulloh (VIII/279), as-Sunanul Kubro (no. 9763, 10225), dan dalam
      ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 19, 468, dan 587)
3.   Imam Ibnu Hibbân rohimahulloh (no. 928-929-at-Ta’lîqotul Hisân ‘ala Shohih Ibni Hibbân)
4.   Imam ath-Thobroni rohimahulloh  dalam al-Mu’jamul Kabîr (no. 7172), al-Mu’jamul Ausath
      (no. 1018), dan dalam kitab ad-Du’aa (no. 312-313)
5.   al-Hakim rohimahulloh (II/458)
6.   Imam Ahmad rohimahulloh dalam musnadnya (IV/122, 124-125)
7.   Imam al-Baghowi rohimahulloh dalam Syarhus Sunnah (no. 1308), dan lainnya dari Shohabat
      Syaddad bin Aus rodhiyallohu 'anhu

Diriwayatkan juga oleh Imam at-Tirmidzi (no. 3393) dari Syaddad bin Aus rodhiyallohu 'anhu dengan lafazh awalnya berbeda, Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى سَيِّدِ الْإِسْتِغْفَار …

"Maukah aku tunjukkan kepadamu sayyidul Istighfâr ? …"

Imam at-Tirmidzi rohimahulloh berkata, ‘Hadits Hasan Gharib.’ Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rohimahulloh dengan beberapa jalan dan syawâhid (penguat)nya dalam Silsilah al-Ahadîts ash-Shohîhah (no. 1747).

Imam Bukhori rohimahulloh memasukkan hadits ini dalam “Bab Istighfâr yang paling utama”. Ini menunjukkan bahwa Imam Bukhori rohimahulloh menganggap ini adah lafazh Istighfâr terbaik. Juga kandungan makna dalam hadits ini menunjukkan bahwa doa ini layak disebut dengan Sayyidul Istighfâr (penghulu Istighfâr) sebagaimana yang disifati oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam .

_*NASEHAT UNTUK SEKIRANYA TIDAK MEMONDOKKAN ANAK SEBELUM MENCAPAI BALIGH*_

_*Telah Di Periksa Oleh Asy-Syaikh Abu Fairuz Abdurrohman Bin Soekojo Al Indonesiy حفظه الله تعالى*_                بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَن...